Subscribe Us

Bandung Punya Konser : Venue ABRI, PERSIB dan Doel Sumbang

Jika mendengar kata Bandung, pasti terlintas dibenak soal romantisme dan hal kompleks lainnya. Entah wisata, kuliner, seni juga rekam kejadian sejarah menjadi perbincangan seru tiap Bandung digaungkan dalam obrolan remeh temeh tongkrongan

Enggan terlewatkan juga bagaimana kota ini sempat menjadi kiblat musik independen. Hal ini dibuktikan lewat penelitian yang dijalankan oleh Jeffri Yosep Simanjorang dan Gandhi Pawitan dari Universitas Katolik Parahyangan menaksir bahwa modal sosial berperan dalam perkembangan skena musik indie Bandung pada rentang 1994-2004. Hasil penelitian ini menunjukkan, kepercayaan (trust), timbal balik (reciprocity), juga kerja sama (cooperation) yang tumbuh dalam komunitas musik indie Bandung tumbuh secara alami pada periode awal sekitar 1990-an. Paling tidak itu sebagian memori yang dapat diakses ketika siapapun menuliskan “Sejarah Musik Bandung” di kolom pencarian.

Saya tidak terlalu banyak tahu tentang Bandung hari ini, kecuali gosip-gosip underground yang berceceran diberanda. Kebetulan kolom pesan instagram teratas berisikan haha-hehe bersama akun berlatar biru bertuliskan Bandung Punya Konser. Tanpa tedeng aling-aling, saya meminta mereka menjawab pertanyaan saya dengan iming-iming, “Kalian nanti bakal di publish abis Interview BAALE”. Silahkan disimak Edisi Kedua Wawancara kami bersama Bandung Punya Konser.

Hallo Bandung Punya Konser, kumaha damang? Aya nu rame naon yeuh di bandung ayeuna?

Halo halo pangesto hehe. Kebetulan Bandung lagi dingin-dinginnya, mungkin gara-gara kemarin Persib ada di pucuk sama ini emang lagi chatan sama oknum dry text sih


Si aa “Kenapa Bandung” menurut sudut pandang kalian ngasih dampak besar dalam penambahan penduduk Bandung gak sih? Atau minimal bikin tambah macet dari orang kota di tiap weekend meskipun sebelum dia ada, Bandung emang udah macet kan ya, hehe

Lumayan berdampak sih, bikin orang makin FOMO kayaknya ke Bandung. Kalau orang Bandungnya sih agak garetek denger si aa itu teh apalagi orang Kabupaten Bandung mah haha. Harapan terbesar dari viralnya si aa itu sih Banda Neira comeback ya, walaupun kata mas Ananda Badudu gak bakal ada lagi reuni sampai kapanpun. Seperti biasa warga sipil selalu hanya bisa berharap saja heu

Akhir tahun nanti akan ada pesta demokrasi pilkada, kira-kira sudah siap sama plan para kontestan dalam meraup suara Gen Milenials dan Z lewat jalur konser di Bandung? Jika berkaca dari Pilpres kemarin menurut kalian work gak sih strategi seperti itu?

Berkaca dari pilpres, strategi itu jadi salah satu yang work sih untuk ngumpulin massa tapi kalau untuk naikin elektabilitas belum tentu deh hehehe. Karena sekarang masyarakat juga udah pinter memilah dan menyadari kalau ini part of entertainment yang mereka ingin nikmati aja gak terlalu berpengaruh sama pilihan mereka. Kayaknya tambahan activation lain di venue mungkin bisa jadi alternatif ide dan lebih "nyentuh" dibanding hanya sekedar pesta diselipin orasi.

Romantisme histori yang lekat dengan bayang-bayang Bandung sebagai kota musik. Tentunya menuntut bintang baru tiap harinya, Menurut kalian gimana regenerasi yang terjadi disana, sudah bisa disebut cukup baik kah? Dan seperti apa gambaran kasarnya?

Dari yang terjadi di lapangan sepengamatan kami regenerasi itu selalu tumbuh dan selalu segar. Tapi memang badai festival bikin pendatang baru ini tenggelam secara publikasi yang umumnya merangkak lewat gigs atau mini showcase. Ditambah mayoritas audience yang komposisinya Gen Z mungkin kurang informasi terkait sejarah besar Bandung yang sempat jadi kiblat utama industri musik di Indonesia, beberapa juga sedikit kurang ngulik dan menerima apa yang disuapi media mainstream atau aplikasi video vertikal. Kalau dari sisi pelaku musiknya tentu ada keterbatasan budgeting yang sering kali fokusnya tidak pada branding dan marketing karena kalau dinilai secara produksi sudah jauh mengalami peningkatan kualitas sebetulnya. Itunya yang sering gak ketemu. Digitalisasi ini juga perlu adaptasi banget, walaupun bukan hal baru tapi tiap hari ada aja terobosannya. Keep in touchnya kejar-kejaran, panjang umur perjuangan!

Dokumen Pribadi BPK

Kami penasaran, boleh kasih kami rekomendasi 5 musisi asal Bandung yang menurut kalian punya kesempatan besar untuk bersinar di kancah Nasional baik Internasional di masa yang akan datang. Go!

Wah seru nih, walaupun kalau cuma milih 5 mah susah banget euy. Banyak banget yang ganggu telinga kami, gatel gitu pengen denger lagi, pengen denger lagi. Tapi kalau hanya boleh milih 5 sih mungkin Strangers, AlkateriSuar, Erratic Moody dan Lightspace bisa jadi pilihan untuk coba didengarkan. Kami coba petakan yang menurut kami menarik dari berbagai genre. Tentu doa baik buat mereka dan kawan-kawan yang tidak cukup untuk disebutkan di sini satu per satu untuk bisa terus hidup dari karya dan menggaungkan karyanya hingga mancanegara.


Masalah soal venue konser di Bandung yang minim dan bisa dibilang (untuk skala besar) masih ada kecenderungan memilih Venue ABRI. Menurut kalian, apa kecenderungan tersebut sudah teratasi? Dan apa venue yang tersedia sudah cukup mumpuni dalam hal fasilitas/flow crowd?

Kalau bicara soal skala besar kita simpulkan paling umum format festival musik ya, tentu rajanya saat ini Jakarta. Sejujurnya melihat buasnya Jakarta mengemas festival, venue-venue di Bandung terkesan jauh banget levelnya terutama masalah space dan kantung parkir. Bicara masalah luas area, Tritan Point dan Laswi Heritage masih yang juara sih kalau di Kota Bandung. Tapi kenyamanan event musik kan luas ya, jadi pasti venue-venue lain juga ada daya tarik lain dari POV subjektif pihak penyelenggara atau demand dari barudak penikmat musik dengan berbagai experience mereka di lapangan. Kesadaran tentang batas maksimum crowd juga perlu dievaluasi banget sama penyelenggara karena beberapa kali overload dan cukup kacau sih dengan lalu lintas Bandung yang padet dan serba "duk-dek" ini, jadi harusnya gak melulu soal jual tiket sebanyak-banyaknya.


Terbilang ada “Oknum” musisi yang punya rekam jejak buruk di Bandung, Mulai dari nilep sampe toxic berakhir cancel culture hingga karirnya meredup, tanggapan kalian soal fenomena ini gimana?

Namanya manusia kali ya hidup mah pasti ada aja kesulitan dan tantangannya tapi kan baiknya mencari solusi kreatif yang lebih nyeni (pan seniman ceunah) bukan solusi instan atau gelap mata. Pohonnya lagi tinggi kali jadi anginnya lagi kencang-kencangnya haha. Era media sosial ini juga agak serem sih, selain mudah mengakses karya dan mengikuti kehidupan keseharian idola, di sisi lain lebih mudah juga nemuin borok-boroknya mereka. Public figure-nya harus lebih sadar kalau dia menginfluence, barudak penikmat musiknya juga harus lebih bijak pake internet, harus bersinergi. Untuk beberapa kasus berat, cancel culture bagus sih buat efek jera tapi kadang sayang banget karya-karya original yang potensial jadi harus tereliminasi begitu saja dari persaingan bukan karena masanya abis tapi karena oknumnya maksa orang-orang move on dari dia dan karyanya hu-hu-hu sad.

Foto : Jeurnals, WhiteboardJournal, Parboaboa
Doel Sumbang berhasil mendapat perhatian lebih di TikTok, juga  Leipzig yang selalu menyematkan budaya sunda yang kental ditiap-tiap penampilannya dan yang terbaru,  The Panturas juga tak berhenti menyilaukan budaya sunda belakangan ini. Seberapa yakin kalian soal budaya pop-sunda mampu minimal bersaing dengan remix-jawa yang meledak saat ini?

Sok rada gengsi tuda barudak mah hahaha. Kita tau belakangan "well" jadi kata yang sekarang tren di Bandung atau panggilan ke temen sebaya sekarang juga bergeser jadi "cok" yang mana dua contoh itu diserap dari luar Jawa Barat. Kalau pertanyaannya seberapa yakin, kami sih cukup yakin. Tapi apakah cukup cepat sampai ke sana dan semeledak itu kami juga ragu. Itulah pentingnya beliau-beliau panutan kita di industri ini perlu menginfluence dan mengingatkan tentang budaya sunda yang kurang ter-expose. Emang harus di-trigger dulu. Fenomena Doel Sumbang contoh real-nya. Nyata pisan. Dengan sedikit pembaharuan kemasan dan dibarengi dengan masifnya pengaruh public figure, boom, lagu yang bahkan nyunda banget dan ada sebelum pungguna TikTok itu sendiri lahir tiba-tiba naik ke permukaan. Jadi, cukup optimis. Walaupun gak bisa dipungkiri ombak pop-jawa juga makin kenceng dan superpower sampe sekarang setelah "The Godfather of Broken Heart" Pakde Didi Kempot menghidupkan lagi skena itu sebelum wafat. Tapi sekali lagi, optimis.


Giliran isi perut, hehe. Coba dong kasih rekomendasi 5 tempat kuliner yang menurut kalian wajib banget dikunjungi kalo ke Bandung.

Duh ini mah perdebatan sengit nih, tapi balik lagi masalah selera ya. Salah satu idamannya di Sunda mah sambel, gatau deh sambelnya RM Khas Sunda Cibiuk punya tempat tersendiri di hati kami. Pedesnya pas, pake kemangi jadi aromatic dan nyakreuk. Kedua ada Bakmi Tasik 88 di Antapani. Gak sengaja beli di ojek online ternyata sekarang jadi sering repeat order hehe sulit dijelaskan cobain aja. Ketiga dimsum tapi dibakar, Halaman Terakhir jadi yang paling juara ngemas ini sampai nyaman di lidah sampai ke lambung. Cuma emang rada ngantri euy nu ieu mah. Keempat sate-satean, lagi musim banget sate asin pedas tapi juaranya tetep Sate DJ sih menurut kami. Pionirnya ga sih? CMIIW btw jangan lupa beli pisang keju di sebelahnya hehe. Terakhir tentu sesuai pepatah, "Hade Goreng Ku Baso". Ini bakal jadi yang paling diperdebatkan tapi Bakso Balowo mungkin bisa dicoba kalau lagi di sekitar Cikutra. Agak mahiwal ya list-nya, biasa sok indie. Lain kali harusnya pertanyaan ini mah ditanyain ke Gelanggang Olah Rahang, tapi awas biwirna lada hahaha

Kalimat penutup untuk pembaca yang sudah baca sampai akhir.

Fix nganggur sih WKWKWK. Ngapain bjir baca ini sampe akhir. Tentu terima kasih banyak sih untuk yang sudah support Bandung Punya Konser tumbuh sampai hari ini. Support yang kami maksud bukan sekedar dukungan tapi juga masukan, kritikan, evaluasi dan hal-hal lain yang beneran bikin kami muhasabah tiap meeting. Maaf juga kalau ada kurangnya atau ada salah-salah kata atau adminnya ngaco dikit karena ngantuk dan under pressure. Duh asa sararedih gini. Tapi tujuan utama kami hadir adalah membantu sinergitas yang kami jelaskan di atas. Kami ingin musisi dan penyelenggara acara dapat ruang publikasi tambahan dan barudak penikmat musik juga punya wadah serta katalog ke mana harus datang. Syukur-syukur sekalian nyoba yang baru-baru yang belum didenger. Kalau venuenya di cafe bisa bantu industri FnB juga. Atau kalau ada informasi tenant bisa bantu yang UMKM. Terus kalau ada volunteer bisa buka kesempatan nambah pengalaman dan lapangan kerja juga. Ah banyak we pokoknya mah, capek tapi seru. Self-reward penting tapi jangan lupa nabung ya barudak. Akhir kata, tak perlu bingung mau ke mana, karena Bandung Punya Konser. Cieilah.


Teks : Diaz Raehan Restu Adji

Foto : Dokumen Pribadi Bandung Punya Konser

Posting Komentar

0 Komentar