Pergeseran kebiasaan dalam mendengarkan lagu lewat potongan sebagian lirik kini menjadi keuntungan juga bumerang bagi musisi. Tantangannya adalah apakah lagu tersebut berhasil menarik pendengar untuk mendengar lagu secara utuh atau hanya bagian tersebut yang hanya akan membanjiri kolom For Your Page? Entahlah, tapi sepakat atau tidak, Bernadya menjadi salah satu yang berhasil mensiasati fenomena ini. Lewat jutaan angka streaming di single “Apa Mungkin” dan berturut-turut dalam rangkaian EP “Terlintas” jadi buktinya.
Kini babak baru sedang Bernadya lalui lewat debut albumnya yang berjudul “Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan”. Masih sama seperti rilisan sebelumnya, album ini menyiratkan keluhan, keputusasaan, serta kemurungan pasca perpisahan. Bedanya, album ini hadir dengan tone yang gelap dari segi judul dan sampul. Pemilihan wardrobe hitam-hitam dan judul sumpah serapah ini menjadi senjata dalam mendulang sorotan publik. Terbukti, selang waktu paska pengumuman judulnya saja, pertikaian online terjadi. Penyebabnya sepele, hanya soal kemiripan gaya penulisan judulnya dengan album “Lagipula Hidup Akan Berakhir” milik Hindia. Meski riuh, keduanya menyikapi dengan cuek.
Album ini disusun menjadi 3 fase, mulai dari patah hati, keraguan dan kesadaran. Saya coba mulai mengulas album ini dari fase pertama. Lewat teaser pra-rilis yang diambil dari fokus trek yang berjudul sama dengan judul albumnya.
Masih jauh dari sembuh
Sudah gila meski tak separah itu.
Terdapat diksi ‘gila’ yang sempat populer di konten sosial media dan menjadi trend yang kurang lebih bernarasi demikian ‘orang gila mana yang …..’. Lirik sederhana dengan pembawaan vokal setengah pasrah menambah kesan lirih.
Trek nomor 2 yang sudah dilepas terlebih dahulu “Kata Mereka Ini Berlebihan” hadir dengan gaya melodi yang dapat menciptakan perasaan tenang dan merenung membuat storytelling Bernadya lebih tebal. Cerita menohok soal tuntutan sempurna dalam sebuah hubungan menjadi isu relate paling tidak untuk hari ini.
Selanjutnya masih tentang fase pertama ; Heartbreak. Lama-Lama dan Kita Kubur Sampai Mati masih dengan diksi minimalis yang menyayat dengan melodi mengalun memaksa perasaan nelangsa sekaligus pilu mampu menguasai segala perjalanan pulang Bernadya.
Sosok ‘khodam pendamping’ dalam bentuk produser di album ini patut diacungi jempol Bagaimana Petra Sihombing dan Rendy Pandugo saling melengkapi rentetan kisah pilu yang Bernadya susun. Menariknya, Bernadya menyebut bahwa album ini sepenuhnya bukan berdasarkan dari cerita yang ia alami, melainkan dari cerita teman-temannya dan bahkan ada yang hadir dari kolom pesan sosmednya.
Fase selanjutnya hadir lewat trek Ambang Pintu dan Berlari. Keraguan diri yang tebal dengan tone pengharapan meneguhkan seorang Bernadya menjadi seorang hopeless-romantic seutuhnya lewat lirik cerdas yang terdapat di trek Berlari;
Setidaknya aku jadi
Yang pertama kau kabari
Saat harimu kurang menarik
Fase terakhir yang coba Bernadya gambarkan dalam album ini adalah fase kesadaran diri. Kini Mereka tahu hubungan manipulatif dan ditutup dengan meruntuhkan perasaaan pesimisnya dengan penuh emosi lewat "Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan" yang mematik para pendengar untuk kembali menomorsatukan akal sehat.
Menyimak keseluruhan album ini mengingatkan saya dengan album “Sour” milik Olivia Rodrigo atau "Folklore" milik Taylor Swift namun dengan nuansa sangat murung. Ringan dengan diksi minimalis tanpa menye-menye jadi standar baru untuk sebuah Lagu Galau. Hal ini membuat lagu di album ini punya kesempatan lebih untuk menjadi soundtrack sinema garapan sutradara arus pinggir.
Sisi storytelling Bernadya dalam menyampaikan keseluruhan album terkesan lebih dewasa jika dibanding EP Terlintas. Namun perasaan anti-klimaks masih terasa meskipun album ini dari segi durasi sudah lebih panjang dari EP sebelumnya. Bernadya dan kemurungan sudah menjadi paket lengkap muda-mudi putus asa oleh cinta. Jika saat EP Terlintas hadir saya memprediksi Bernadya akan wara-wiri menghiasi daftar penampil festival kenamaan tanah air dan terbukti, maka kali ini saya meramal Bernadya mampu memboyong ragam penghargaan lewat torehan manis album "Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan". Trust me:)



0 Komentar