Subscribe Us

Kejutan Efek Rumah Kaca lewat Rimpang, Catchy, Tebal & Mencekam.

Mengubah haluan musikalitas bukanlah perkara yang baru-baru amat bagi setiap musisi maupun grup musik. Sama halnya dengan Efek Rumah Kaca (ERK) yang memang gemar mengeksplorasi tatanan suara dan gubahan nada di setiap karya-karyanya.
Kala pertama mendengar kabar soal perilisan Rimpang, benak saya sudah berpikir bahwa telinga dan kepala pasti sudah cukup penat dan enggan untuk mendengarkan rilisan terbaru ERK dengan segera.

ERK juga dikenal mengedepankan kesederhanaan di tiap aransemen mereka, tapi selalu tampil gemilang oleh daya magis mereka yang muncul entah dari mana.
Album Rimpang merangkum seluruh daya magis ERK itu. Selama nyaris dua dekade mengenal ERK, Rimpang adalah sebuah repertoar yang sangat pantas untuk mendesfinisikan ERK yang sesungguhnya.

Penetapan kata Rimpang sebagai judul album terbaru ini tentu tak sembarangan. Cholil dan kawan-kawan memilih untuk meminjam teori rhizoma milik Gilles Deleuze dan Felix Guattari sebagai gagasan utama di album mereka.

Teori post-strukturalis itu diinterpretasikan sebagai besar kecilnya harapan yang kelak akan muncul tiba-tiba, tanpa diminta, namun kerap muncul ketika dalam tekanan.
Rimpang sendiri merupakan kata bahasa Indonesia yang digunakan untuk menggolongkan tanaman akar-akaran yang menjalar kuat ke dalam tanah, layaknya jahe, kunyit, maupun temulawak.
Dalam keterangan tertulisnya, 10 track yang terlampir dalam Rimpang mewakili seluruh kesah dan gelisah ERK sekaligus menjadi bentuk kritik dan otokritik untuk mereka sendiri.

Posting Komentar

0 Komentar