Subscribe Us

BAALE - Fortuna (Review)

Nama Iqbaal Ramadhan cukup mencuri perhatian dipertengahan tahun ini. Bagaimana tidak, sosok yang tidak diragukan lagi sebagai aktor kini menarik tali gasnya pol-pol-an di dunia tarik suara lewat BAALE.

Hal ini tentu bukan yang baru baginya, mengingat grup/duo/band terdahulunya cukup punya kesan mentereng di industri musik. Kendati demikian, semuanya selalu berujung dengan perpisahan. Lalu, kemanakah arah tujuan BAALE kini?

Saat “Cinta Luka Sempurna”, “Fortuna” dan “Di Bawah Lampu” dilepas serentak pertanyaan diatas kian mencuat, ditambah gabungan Music Video ketiganya, terlebih scene menunggangi kuda dan isian rap pada part “Di Bawah Lampu” menarik Iqbaal ke tahun ketika serial Kera Sakti hadir dan ramai . Kira-kira sejauh itu cibiran warganet yang saya baca dimanapun potongan video tersebut ditayangkan.

Namun, album “Fortuna” hadir dengan komposisi yang cukup variatif dengan mengangkat sudut pandang remaja urban, mulai dari percintaan, persahabatan hingga renung resah lengkap dikemas di album ini.

Pada track pembuka menampilkan musik instrumental berdurasi 1 menit 36 detik bertajuk “Prafortuna” yang menuntun pendengar untuk memasuki BAALE secara mendalam. Lirik rayuan romantis juga melankolis nangung dimasa akhir hubungan buntu terasa kental di “Cinta Luka Sempurna” yang groovy, “Masih Batu” yang lebih funk dengan alunan cengcet, dan “Baik Untukmu” dengan sayatan gitar dibagian reffrain memberi kesan nelangsa perpisahan.

Selipan rasa cemas, kerentanan, dan beban-beban emosional seorang Iqbaal dilepas ekplisit dalam track monolog berjudul “Untuk Kamu”, lalu “Pulang” yang mampu mempertebal balada muramnya kisah percintaan lewat lirik berikut :

Dan semua yang tersisa / Cukup untuk ‘ku kenang / Selamat malam kau ‘ku sayang / Tenanglah di keabadian

Berbalas berturut-turut dalam “Naluri” dan “Malam Minggu” yang terang-terangan mengekploitasi lanskap muda-mudi ‘bekas’ Ibukota dengan nuansa upbeat dan musik khas disjoki pesta.

Album ditutup dengan lagu “Musim” berdurasi hampir sebelas menit dengan komposisi dua layer, semacam singkatan dari fase denial menuju fase bergaining diantaranya diselipkan ruang kosong untuk menandai perpindahan dua fase tersebut.

 

Pujian lainnya saya sematkan untuk cover artwork album ini. Kudos untuk Ardi Gunawan, Jozz Felix dan Lunarsae Alifia yang apik menggambarkan keseluruhan warna album ini menjadi kesatuan dalam sebuah gambar. sebelas track untuk sebelas figur di cover artwork.

Sebetulnya, saya baru teringat soal Iqbaal yang sebelumnya aktif di project Svmmerdose bersama Tarapti pada akhir tulisan ini. Lalu memutar ulang katalog Svmmerdose dan terjawablah pertanyaan saya diatas, bahwa album ini jawaban atas keinginan eksplorasi dari seorang Iqbaal Ramadhan lewat warna musik pop 90-an yang menyerempet alternative, rnb, dan funk, meskipun eksplorasi rasanya kurang maksimal jika hanya dinilai dari album pertama. Menarik untuk menunggu album selanjutnya untuk melihat seberapa jauh Iqbaal Ramadhan mengembangkan warna musik yang ia ilhami.

Pertanyaan baru muncul dikepala perihal apa Iqbaal Ramadhan dengan moniker BAALE akan konsisten berkarya? apakah hanya akan menghias daftar diskografi sekali datang lalu hilang seperti Svmmerdose? atau menjadi alat bersenang-senang panjang untuk terus mengeksplorasi musik?

Posting Komentar

0 Komentar