Sejak memasuki dimensi baru Sal Priadi lewat album keduanya yang bertajuk “MARKERS AND SUCH PENS FLASHDISKS”. Saya seperti disuguhkan dengan karya yang menantang batas-batas genre, lalu terjebak di labirin yang dimana setiap lagu membawa saya ke sudut-sudut tak terduga dari spektrum emosi yang hadir dengan pendekatan segar nan nyentrik. Seketika sepakat menganggap “MARKERS AND SUCH PENS FLASHDISKS” adalah sebuah perjalanan anomali seorang solois sekaligus aktor bernama lengkap Salmantyo Ashrizky Priadi.
Setiap trek dalam album ini punya cerita yang berdiri sendiri, namun bersama-sama, mereka membentuk narasi yang harmonis. Sal Priadi tidak hanya bermain dengan melodi, tetapi juga menelanjangi dirinya sendiri lewat pengolahan lirik yang terkesan nihilis di musik populer hari ini. Mengajak pendengar untuk merenung dan menari dalam satu napas yang sama, diksi yang tepat guna berhasil melahirkan sudut pandang unik. Menuntun para pendengar untuk menentukan musik latar kehidupan sehari-hari mereka dari album ini.
Memulai dari 3 track pembuka album ini yang hadir di era pasca-pandemi ini, menarik benang merah perayaan perjalanan cinta berkelanjutan di unit kecil keluarga. Majemuk berbicara soal properti, wangi-wangian rumah di “Kita usahakan rumah itu”, kegetiran dimasa maha terbatas lewat “Mesra-mesraannya kecil-kecilan dulu” serta percakapan melankolis di “Lewat sudah pukul dua, makin banyak bicara kita”. Ketiganya menjadi awal eksplorasi Sal untuk menerobos rambu disiplin musik.
Track berikutnya kian menenggerkan Sal Priadi menuju dimensi lain, “Dari planet lain”, “Yasudah”, dan ”Zuzuzaza” yang tidak ingin kalah eksentrik dari “1–2-CHA-CHA” di album “Berhati” yang memiliki sentrisitas yang memikat. “Foto kita blur” dan “Biar jadi urusanku” sangat relevan dengan nilai-nilai yang dipegang oleh sebagian Gen Z, yang diulas ekspresif oleh Sal. “Episode” juga “Gala bunga matahari” yang secara tematik berkesinambungan menimbulkan perasaan mawas diri dengan melodi mengalir. Serta ”Semua lagu cinta”, “Hi, selamat pagiii” dan “I’d like to watch you sleeping” yang hadir dengan melodi hangat dibantu instrumen minimalis memperkuat eksplorasi emosi.
Terakhir track "Gala bunga matahari" memaksa saya terjebak dalam situasi mixed-feeling, menyerempet getir. Rasanya persis seperti pertama kali saya mendengarkan Pilu Membiru dari Kunto Aji. Kendati demikian Gala bunga matahari dapat lebih menonjolkan nuansa positif lewat irama riang. Tidak heran fokus track ini kemungkinan punya kesempatan besar seliweran mengisi latar kehidupan di berbagai sosial media kelak.
Komposisi album ‘MARKERS AND SUCH PENS FLASHDISKS” yang baik tentu berkat mereka (produser) yang cukup piawai menyusun kepingan Sal Priadi, tanpa menanggalkan sedikitpun sosoknya di album sebelumnya. Sebab album ini masih berkutat di tema murung, sendu sedan, namun sesekali ceria juga sedikit jenaka. Formula yang cukup menggambarkan album dari seorang aktor yang memerankan ragam peran.
Jika album ini adalah sebuah film, maka film “3 Idiots” mengisi ruang imajinasi saya dibaris pertama, tentunya dengan bayangan ketiga pemeran utamanya diperankan oleh Sal sendiri. Namun, jika kelak album ini adalah makanan, maka Soto yang paling cocok. Soto daerah mana? terserahmu, sesuaikan dengan seleramu, namun baiknya sisakan sedikit nasi di piring lainnya, biarkan mereka menangis, menemanimu.




0 Komentar