Subscribe Us

Unit “Pantura-soul” LAIR Akhirnya Resmi merilis Album Penuh Bertajuk 'Ngélar'.

Setelah merilis single Tatalu pada Januari lalu, dan merilis ulang Setan Dolbon pada beberapa hari yang lalu, Grup musik “pantura-soul” LAIR akhirnya resmi merilis album penuh yang bertajuk “Ngélar” pada 23 Februari 2024.

Dalam album kedua Ngélar tersebut narasi sosial yang lebih dalam dan pokok bahasan yang lebih intim terlihat lebih jelas. Mereka banyak berbicara tentang ‘tanah’, karena sejarah kampung halaman mereka, Jatiwangi, sebagai produsen produk berbahan dasar tanah liat/terakota terbesar di negara tersebut. Hubungan mereka yang terjalin dengan ‘tanah’ sungguh tak ada bandingannya—bahkan instrumen mereka sebagian besar terbuat dari terakota.

Dari membayangkan kembali kejayaan kampung halaman mereka di masa lalu, LAIR, bersama dengan penyanyi/penulis lagu Monica Hapsari (yang ikut menulis dan menyusun tiga lagu dalam album) dan Go Kurosawa (Kikagaku Moyo) yang memimpin proyek sebagai produser, bernyanyi tentang ritual dan tradisi panen, hingga memanjatkan doa kepada tanah subur dan reruntuhan hutan lebat di Jatiwangi yang kini mereka coba rebut kembali sembari berpacu dengan gelombang industrialisasi yang masif. Album ini secara kontekstual penuh kesedihan dan juga merupakan peringatan yang jujur ​​dan ceria atas kehidupan sehari-hari para anggota band di pantai utara Jawa, Indonesia saat ini.

Ngélar adalah salah satu kata yang mungkin bisa menggambarkan esensi LAIR sebagai sebuah kelompok. Kata ngélar sendiri berasal dari budaya masyarakat setempat yang memiliki arti ‘berkeliling untuk merayakan sesuatu.’ Di desa mereka, ngélar berarti pertunjukan keliling, di mana para pemainnya bermain musik dan berkeliling desa, menyapa masyarakat sekitar, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, atau sekadar berada di lingkungan sekitar mereka, yang menunjukkan bahwa ada sesuatu di dekatnya yang sedang dirayakan.

LAIR jatuh cinta dengan 'perjalanan', 'waktu', dan semua interaksi mereka. Ngélar, bagi mereka, adalah representasi dari perjalanan mereka. Bagaimana mereka berkeliling, berinteraksi dan berkomunikasi, hingga merayakan dan memahami segala sesuatu yang terjadi di dalam dan di sekitar mereka. 

Bagi LAIR, Ngélar adalah sebuah metode, sebuah proses kreatif, dan—sebagai sebuah album—sebuah puncak dari setiap perjalanan mereka sejak berdirinya grup tersebut. Ngélar berisikan sepuluh lagu yang diantaranya adalah “Tatalu”, “Pesta Rakyat Pabrik Gula”, “Tanah Bertuah”, “Hareeng”, “Boa-Boa”, “Bangkai Belantara”, “Kawin Tebu”, “Setan Dolbon”, “Gelombang Pemecah Malam” dan “Mencari Selamat”

Posting Komentar

0 Komentar