Koil merupakan salah satu band pionir di kancah musik independen Kota Bandung. Memulai panggungnya sejak 1993, Koil solid dengan personel Otong (vokal), Donnyantoro (gitar), Leon Ray Legoh (drum), dan Adam Joswara—Vladvamp (bass, synthesizer).
Jejak musik Koil direkam dalam beberapa nukilan diskografi. Mulai dari mini album Demo From Nowhere pada 1994 berlanjut dengan debut album panjang, Self Titled yang dilepas pada 1996. Lima tahun kemudian, sophomore Megaloblast hadir dan meledak di pasar arus utama. Album terakhir Koil adalah Blacklight Shines On yang dirilis pada 2007—mewujud menjadi Blacklight di tahun 2010. Catatan lain musik Koil bisa juga dijumpai di berbagai album kompilasi lokal, soundtrack film, hingga deretan single lepasan.
Koil membuka tahun 2024 ini dengan merilis versi orisinal dari lagu “Tak Ada Wifi di Alam Baka”. Perilisan ini merupakan cara dari Koil untuk menebus janji menuntaskan album penuh keempat mereka yang tertunda hingga nyaris dua dekade. Sebelumnya, Koil telah memulai visi menebus janji tersebut dengan melepas lagu berjudul “Pecandu N★rkotbah” pada pertengahan 2023.
Akhir tahun lalu, lagu ini juga sebetulnya pernah dirilis melalui prosesi kolaborasi dengan band rock muda asal ibu kota, .Feast. Selain keduanya saling bertukar lagu, Koil dan .Feast sepakat merilis lagu bersama yang tidak lain adalah versi khusus dari “Tak Ada Wifi di Alam Baka”. Format kelaborasi ini lantas disepakati untuk dipublikasikan lebih awal dan meluas ke hadapan publik dibandingkan bentuk orisinalnya.
“Lirik yang gue bikin itu hanya potongan kata-kata saja, sebetulnya. Kata-kata dari ketidaksengajaan satu, ketidaksengajaan dua, ketidaksengajaan tiga, dan seterusnya. Kayak lagu ini. Semuanya bermula dari sampling yang gue punya, yaitu sampling dengan kata-kata: “Bertobatlah Engkau Umat Baragama”,” kata Otong.
“Ada momen di mana gue bertemu salah seorang ustaz. Intisari obrolan dari pertemuan tersebut adalah bahwa sebelum kiamat terjadi, surga dan neraka itu belum ada. Beliau menjelaskan panjang lebar berdasarkan pemahamannya itu. Dan gue kan, bukan tipikal orang yang tidak membantah dan tidak juga mengiakan. Di satu sisi, gue adalah orang yang junkie internet. Mun euweuh wifi, hirup aing kumahanya? Tema surga neraka dan kehidupan keseharian gue sebagai junkie internet itulah yang gue gabungkan menjadi lirik,” sambung Otong.
Kesembilan versi “Tak Ada Wifi di Alam Baka” ini sudah bisa didengarkan di beragam layanan streaming musik seperti Spotify, Apple Music, YouTube Music, Deezer, dan platform-platform lainnya.


.jpg)
0 Komentar